Jumat, 13 Desember 2019


Gamelan Menghidupkan Desa

Saya masih teringat dengan pengalaman yang terjadi bebarapa tahun lalu ketika diajak melihat pertunjukan wayang oleh bapak di desa sebelah kampung saya. Setibanya dilokasi, perhatian saya tertuju pada orang-orang yang ada disekitar lokasi pertunjukan. Baik orang muda, tua, muda-mudi pria dan wanita berbaur di sekitar lokasi pertunjukan dengan kesibukan masing-masing yang membuat suasana menjadi meriah. Mereka yang duduk bercengkraman dengan temannya ataupun keluarganya sambil menikmati makanan yang di jajakan oleh para pedagang ataupun sekedar menghisap rokok untuk menghangatkan badan.
Banyak penjual yang menjajakan dagangannya yang tidak terlalu jauh dari lokasi dengan harapan masih bisa mendengarkan suara gamenan dan dalang melalui pengeras suara. Makanan yang biasanya dicari pada saat pertunjukan wayang adalah gulai kambing, karena dengan semangkuk galai bisa menambah kehangatan untuk menikmati pertunjukan dan bercengkraman antar pengunjung yang lain. Entah membicarakan tentang dalang, wayang, lakon ataupun kesibukan sehari-hari. Dari sini bisa dilihat bahwa pertunjukan wayang dapat menghidupkan nilai ekonomi di masyarakat desa karena dapat menjadikan momentum untuk mengais rejeki.
Penonton yang datang tidak hanya daerah sekitar pertunjukan, tetapi juga dari daerah lain. Para penonton yang datang dari daerah lain memang sebagian berlatar belakang bisa dikatakan penggemar berat dengan sosok dalang yang sedang melakukan pertunjukan. Tidak bisa dipungkiri sosok dalang juga mempunyai daya tarik sendiri bagi penonton untuk menikmati pertunjukan wayang. Karena dalang dengan karakteristiknya tertentu dapat membuat penonton antusias dalam menyaksikan pertunjukan dan menerima pesan-pesan yang disampaikan dalang dalam lakon wayang yang dimainkan. Selain itu juga kolaborasi dengan alunan gamelan yang dibawakan pengrawit dan pesan-pesan dalam gendhing yang dilantunkan para sinden juga mempunyai daya darik sendiri untuk memeriahkan peryunjukan.
Suara gamelan yang  masih terdengar menjadi pertandai hidupnya desa karena masih terdengar suara kesibukan masyarakat dalam mensyukuri hidup. Harmonisasi gamelan tidak lepas gabungan beberapa alat musik tradisional yang dimainkan sesuai dengan caranya masing-masing. Tetapi dilihat dari artinya gamelan adalah alat musik yang dipukul. komposisi gamelan bervareasi bisa berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan. tetapi ada alat musik pokok yang menjadi ciri khusus atau bisa dikatakan selalu melekat pada gamelan. Adapun gamelan hanya alat musik umtuk sarana mengiringi tembang-tembang yang dilantunkan.
Hadirnya gamelan dilihat dari sisi historinya memang tidak ada lepas dari pengaruh tradisi ataupun kepercayaan masyarakat yang berkembang pada kalanya. ada yang mengatakan bahwa gamelan dibawa dari india bersamaan penyebaran agama hindu-budha dan melalui kerajaan-kerajaan yang ada di indonesia dan bisa dilikat daei relief-relief yang ada dicandi. Seorang sarjana berkebangsaan Belanda bernama Dr. J.L.A. Brandes secara teoritis mengatakan bahwa jauh sebelum datangnya pengaruh budaya India, bangsa Jawa telah memiliki keterampilan budaya atau pengetahuan yang mencakup 10 butir dan didalamnya ada gemalan.  Berarti gamelan lebih dahulu ada sebelum pengaruh hindu dan india dinusantara. bisa dikatan gamelan sudah ada pada jaman prasejarah, tetapi karena belum mengenal tulisan maka bukti mengenai hal ini belum banyak ditemukan.
Gamelan mempunyai karakteristik berirama yang halus. Hal ini bisa dilihat dari irama yang dimainkan cenderung pelan dan lambat. Hal ini juga tidak lepas dari karakteristik orang jawa yang ramah, tenang dan lembut. tetapi karakteristik halus pada gamelan tidak berarti menghilangkan gertakan kehidupan yang ada dalam tembang-tembang yang diiringi. Begitu pula  banyak makna dan falsafah hidup masyarakat desa yang hanya dilihat tanpa mengetahui seluk beluk dan sebab akibatnya berarti. Begitu pula dengan pertunjukan wayang yang memang sesuai dengan karakteristik masyarakat jawa untuk menyampaikan pesan-pesan dalam lakon yang dimainkan oleh dalang. Untuk itu dalam setiap pertunjukan wayang pasti diiringi alunan musik gamelan dan masih banyak dijumpai di desa-desa.
Pertunjukan wayang masih ada sampai sekarang di desa meskipun jumlahnya mengalami penurunan. Pertunjukan wayang biasanya digelar untuk memeriahkan acara atau peringatan tertentu seperti bersih desa, nyadran, ruwatan, ruwahan, rasulan, peringatan HUT RI dll. Seiring berjalannya waktu dan arus modernitas jaman, sekarang ini mulai jarang untuk ditemui pertunjukan wayang untuk memeriahkan acara hajatan atau orang punya kerja. Karena untuk menggelar pertunjukan wayang selain membutuhkan tempat yang luas juga tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan. Maka dari itu pagelaran wayang diselenggarakan dengan bersama-sama/patungan dalam masyarakat atau instansi tertentu yang mempunyai tempat dan biaya yang mencukupi.
Kedudukan dan status pertunjukan wayang dulu dalam masyarakat desa dianggap penting jika dapat membangkitkan ideologi, harapan, maupun cita-cita yang dinginkannya. Oleh karena itu dulu masyarakat desa berpendapat bahwa setiap individu harus melakukan upacara-upacara seperti mengadakan pertunjukan wayang setidaknya sekali dalam hidup, bila tidak mereka dianggap tidak memenuhi kewajiban dalam hidupnya.
Masyarakat desa menganggap bahwa hubugan antara kekuatan supranatural baik yang bersifat abstrak seperti seng gaweurip (yang bikin kehidupan), seng momong (yang menjaga alam) maupun yang manjaga keseimbangan alam dan keselamatan desa seperti seng mbaureksa (yang menjaga). Semua harus dijaga untuk mancapai ketentraman hidup. Untuk menjaga hubungan tersebut mereka menciptakan ritual-ritual seperti bersih desa, ruwatan, ruwahan tadi. Hubungan ini dipertahankan terus menerus oleh oleh warga masyarakat desa karena menganggap bahwa hal ini dapat menghasilkan interaksi yang harmonis dan bersifat abadi sesuai tujuan tadi.
Kepercayaan terhadap hal-hal seperti itu menumbuhkan ruang khusus yang dapat menghubungkan manusia dengan seng gawe urip, seng momong, dan seng mbaureksa maupun kekuatan lain yang dipercaya dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Namun, untuk mengisi ruang tersebut sering tidak dibarengi dengan kegiatan ibadah maupun aktifitas religi lainnya tetapi kegiatan jenis kesenian yang bagi masyarakat desa tidak terpisahkan dengan kegiatan ritual. Hal tersebut yang kadang menjadi kontroversi dalam masyarakat sehingga menimbulkan dilematika bagi masyarakat lain apakah hal tersebut disebut sebagai untuk melestarikan budaya atau malah bagian dari menghilangkan agama bahkan Tuhan karena dianggap meminta bantuan selain Tuhan (Musrik).
Beragam tujuan diselenggarakannya pagelaran wayang. Menengok ke sejarah ke belakang, wayang merupakan tradisi yang dibawa oleh Sunan Kalijaga pada waktu itu untuk menyebarkan ajaran agama Islam di tengan kepercayaan masyarakat Jawa menganut agama Hindu pada waktu itu. Dengan adanya wayang pesan siar agama dapat diterima masyarakat tanpa adanya pertikaian. Sampai saat ini wayang juga masih digunakan sebagai siar agama Islam. Selain itu, wayang juga digunakan untuk kampanye tentang apa saja, misalnya pemilihan umum atau sosialisati tentang kebijakan pemerintah. Ternyata cara ini lebih efektif bisa diterima oleh masyarakat Jawa, khususnya yang ada di daerah pedesaan.
Tujuan tersebut juga tergantung dengan yang menyelenggarakan, contohnya instansi diantaranya adalah untuk sosilisasi. Sosialisasi dengan menggunakan tanggapan dinilai lebih efektif karena dilain pesan-pesan yang disampaikan juga sebagai hiburan bagi sasaran sosialisasi. sosialisasi diantaranya adalah mengemai menyambut pemilihan umum atau dari dinas tertentumengenai tugasnya. Tujuan lainnya adalah yang banyak dijumpai didesa-desa dalam acara bersih desa. Diantaranya adalah :
1.    Sebagai wujud ungkapan terimakasih kepada Dewi Sri yang telah menjaga tanaman-tanaman pertanian sehingga terhindar dari hama
2.    Untuk menjaga keselamatan para warga desa dari gangguan hal-hal gaib seperti roh atau arwah yang masih gentayangan
3.    Agar terhindar dari gangguan-gangguan penyakit,keamanan dan bencana
4.    Untuk sarana membersihkan desa dan warganya dari musibah atau kesengsaraan agar desa tersebut menjadi aman dan tentram, dll.
Upacara bersih desa dengan mengadakan pertunjukan wayang merupakan sistem aktivitas atau rangkaian tindakan terstruktur yang ditata oleh adat yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa tetap yang biasanya terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan. Kegiatan upacara bersih desa tidak lepas dari interaksi sosial masyarakat karena interaksi sosial melibatkan banyak orang sehingga mempunyai hubungan timbal balik antara pelaku dan upacara yang akan dilakukan serta unsur-unsur yang mendukungnya. Oleh karena itu interaksi sosial menjadi faktor terpenting dalam hubungan dengan orang lain dan menyangkut keberhasilan suatu upacara, hal ini menunjukkan adanya gotong-royong dan kerja sama. Adat dan budaya manusia tidak dapat dipungkiri peranannya sebagai ritual atau kepercayaan masyarakat.
Sedangkan nilai yang dipahami oleh masyarakat dari upacara adat bersih desa antara lain; Nilai kebersamaan/sosial yaitu masyarakat secara bersama-sama bekerja bakti membersihkan makam dan membuat umbul-umbul sehingga kebersamaan antar mereka tetap terjalin dengan baik. Gotong royong yang dilakukan dalam mempersiapkan semua keperluan yang dibutuhkan dalam pertunjukan. Sehingga nilai kebersamaan masih tetap terjaga meskipun diera modern ini.
Nilai selanjutnya adalah nilai religi yaitu hubungan manusia dengan Tuhan dapat terjalin dengan baik jika mereka menjalankan agama dan tradisi upacara bersih desa setiap tahunnya. Sebagai perwujudan syukur kepada Tuhan yang telah memberikan hasil panen yang melimpah. Nilai religi juga berhubungan dengan nilai keamanan yaitu masyarakat bisa terbebas dari pagebluk dan seluruh desa akan merasa aman. Karena diyakini mendapat perlindungan dari yang Maha Kuasa.
Nilai ekonomi yang menjadi keinginan masyarakat desa untuk memenuhi kehidupan. Dianranya yaitu dengan tetap melaksanakan upacara masyarakat akan lebih mudah dan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, serta hasil panen akan meningkat di tahun depan. Selain itu pada saat acara berlangsung akan banyak pedagang yang menjajakan dagangannya sehingga otomatis juga berdampak pada roda perekonomian pedagang.
Dari berbagai aspek dan nilai yang terdapat pada pertunjukan wayang dengan iringan gamelan dalam acara peringatan-peringatan yang  ada dalam masyarakat desa ini membuktikan bahwa pertunjukan yang melibatkan gamelan menjadikan desa menjadi lebih hidup. Hidupnya desa tidak hanya dilihat dari adanya sekumpulan orang didalamnya tetapi juga karena manusia-manusia tersebut secara sadar melaksanakan acara yang dapat menghidupkan manusia lain maupun hal-hal yang dinilai kurang berdampak pada kehidupan manusia dalam bermasyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar